Mengejar kesuksesan dan kebahagiaan dengan berpikir positif saja memang bisa berhasil. Namun, hasilnya akan lebih optimal jika kita menggunakan perasaan positif dan menyelaraskannya dengan pikiran positif.
Begitu kutipan tentang positif feeling yang ditulis Erbe Sentanu dalam buku Quantum Ikhlas yang populer itu. Anda ingin tahu kebenarannya? Coba renungkan lagi! Berapa banyak keinginan yang tercapai ketika perasaan Anda berada pada posisi positif alias ikhlas? Sebaliknya, ketika perasaan Anda negatif alias dipenuhi nafsu dan emosi apa yang yang Anda rasakan? Makin jauh dari ‘kemudahan’? Yup, benar sekali, itu pula yang saya rasakan.

Mengapa bisa begitu? Bayangkan ketika kita berada di zona nafsu. Kita selalu diliputi rasa cemas, takut, dan penuh amarah. Alhasil, kita seperti kehabisan tenaga. Semangat pun tak banyak tersisa karena zona ini memang diselimuti energi rendah.

Sementara ketika hati kita terasa lapang dan ikhlas (positive feeling), kita akan merasa penuh tenaga. Karena memang energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah berbagai perasaan positif yang berenergi tinggi seperti rasa syukur, sabar, fokus, tenang dan happy.

Nah, perasaan-perasaan ini juga yang menjadi sistem navigasi hati kita. Sistem yang memberitahu kita untuk selalu berada di ‘jalan benar’ menuju tujuan. Masalahnya, bagaimana agar kita selalu merasakan positive feeling? Ini rahasianya.

1. Don’t be too serious

Anda ingat bagaimana menjalani hari-hari ketika kepala penuh dengan hal-hal serius? Segala sesuatu pasti akan terasa sulit dicapai.

Sekarang coba geser keseriusan di kepala Anda menjadi keasyikan di hati. Cukup tarik napas dalam, embuskan perlahan. Lalu, tekan tombol rileks di kelapa, senyum di wajah dan tenang di hati. Rasakan perlahan segala urusan menjadi begitu lancar dan penuh kemudahan.

2. Operasikan pikiran dengan sengaja

Untuk menjadi sukses, kaya atau bahagia, kita memang harus menciptakan pikiran yang membuat kita merasakan hal-hal tersebut. Kalimat “Saya ingin bahagia” atau “Saya ingin sukses” sebaiknya kita ubah menjadi “Saya sudah merasa bahagia” atau “Saya sudah merasa sukses (dengan semua yang kita punya)”.
Memang agak sulit dilakukan. Pasalnya, kebanyakan orang belum terbiasa untuk merasa puas dengan apa yang mereka punya. Namun karena ini masalah kebiasaan, Anda hanya perlu berlatih. Seperti olahraga untuk membangun otot dan hormon yang sehat, pikiran positif pun perlu dilatih dengan teratur.

3. Fokus tapi damai

Salah satu sebab kita mudah terbawa ke zona perasaan negatif adalah terlalu sering memaksa atau menuntut banyak dari diri kita sendiri. Kita memaksakan diri terus bekerja hingga energi habis. Padahal, kita hanya punya satu badan, dua tangan, dan dua kaki. Setelah lelah mendera, kita juga masih berharap bisa bersikap riang dan menyenangkan orang lain.

Nah, ketika tenaga habis sementara pekerjaan masih menumpuk, ingat saja aturan ini. Berbahagialah, apa pun situasinya dan izinkan diri Anda beristirahat selama 1 jam, 2 jam, 5 jam, atau bahkan 1 hari bila perlu. Setelah tubuh terasa segar, perasaan pun akan kembali positif. Anda bisa bekerja lagi dengan hasil yang optimal.

4. Setel perasaan positif

Ini latihannya. Coba perhatikan sebuah objek yang menyenangkan di sekitar Anda (bisa barang, orang atau situasi). Rasakan benar-benar selama 2-3 menit betapa beruntungnya Anda memiliki objek itu. Betapa bagus dan bermanfaatnya objek itu bagi Anda. Rasakan perubahan perasaan Anda. Pasti menjadi lebih enak dan positif.

Lalu, pindahkan perhatian Anda pada objek lain dan lakukan hal yang sama. Lakukan sepanjang hari dan jagalah perasaan enak ini selama mungkin sambil menjalankan aktivitas Anda. Semakin sering Anda melatih perasaan positif ini, semakin berkurang perasaan tidak enak yang biasanya sering menekan di hati.

5. Selaraskan pikiran dengan perasaan

Jika kehendak hati tidak sinkron dengan kehendak pikiran, apa yang terjadi? Biasanya yang muncul adalah keraguan. Pasti Anda pernah merasa ingin langsing, tapi sulit menahan godaan makanan berlemak.
Ketika Anda menginginkan sesuatu tapi terbersit semacam keraguan, ini sama saja Anda menyabotase harapan untuk mencapai sesuatu tersebut. Disinilah Anda perlu berlatih untuk menyelaraskan pikiran dengan perasaan.

Caranya, ubah kalimat “Saya ingin langsing” yang terasa kaku dengan “Rasanya lebih enak ya, kalau saya langsing” yang terasa lebih sejuk di hati.

Nah, mulai sekarang prioritaskan diri Anda untuk merasa positif sebelum melakukan apa saja. Dengan positif feeling ini, sukses dan kebahagiaan hanya tinggal masalah waktu.

Sumber: CHIC No.14, 2-16 Juli 2008

Berikut ini sharing tentang M.LM juga yang saya kutip dari Komunitas Bundainbiz.

———-

Pertanyaan :
Pernah gak di prospek orang untuk ikutan MLM ?
…akhirnya memutuskan ikut atau tidak ?
…Apa sih cara yang paling gampang membedakan MLM dan money game ?
…dan pendapat Bundas juga Pandas tentang MLM, positif atau negatif ?
..seberapa penting peranan produk dalam menjalankan bisnis MLM ?
. Apakah kita memutuskan bergabung ketika kita yakin bahwa produknya bagus dan berkualitas dalam artian kita juga harus ikut mencoba produknya dulu ?
…Atau kita memutuskan ikut MLM dengan cukup melihat marketing plan (bonus, jenjang ) yang di tawarkan ?,
atau dengan melihat seberapa cepat kita mendapat bonus, seberapa banyak kita mendapat pasive income ?
Bagaimana caranya kita bisa memilih up line yang baik ?..

Eva Z.Rais

Bunda Deavy M.Mansur :

Yang masih menjadi kendala dalam bisnis MLM buat aku adalah aku gak bisa jualan, apalagi memprospek orang lain. Masih canggung. Mungkin bundas bisa kasih masukkan gimana supaya kita bisa memprospek orang untuk bergabung, dengan cara yang sopan dan tidak terkesan memaksa.

Bunda Dini :

Memang banyak sekali nilai positif dari bisnis MLM tapi kenapa lebih banyak lagi orang yang sama sekali tidak mau mendengar kata MLM sekalipun?
Menurut aku, dan beberapa teman lain hal ini terjadi karena segelintir pelaku m.lm yang melakukan praktek yang bikin orang merasa gerah contoh aja: maksa orang untuk join, bohong demi orang dateng ke presentasi dll.
Moga2 makin banyak orang yang mulai sekarang pelan2 tidak memakai praktek2 ga bener ini….

Bunda Radit :

Alhamdulillah sampai detik ini keputusan untuk ikut bergabung di bisnis MLM merupakan suatu keputusan yg tepat dalam hidupku. Cara paling gampang membedakan MLM dengan Money Game adalah M*L;M itu jelas ada produk yg di tawarkan & ada jenjang karier yg jelas pula serta perlu usaha untuk memperoleh penghasilan seperti merekrut orang, menawarkan produk dgn cara online maupun offline sedangkan money game umumnya gak jelas apa yg tawarkan tiba2 ajah di janjiin akan bisa mendapatrkanpenghasilan sekian rupiah / sekian dolar tanpa harus bekerja keras cukup dgn 3D saja alias diam, duduk & denger.

Bunda Fitri :

Saya pernah nonton film “Pay It Forward”…. itu cukup mengubah pandangan saya. Bayangkan kalau kita bertekad untuk berbuat kebaikan kepada 3 orang minggu ini. Kemudian ke-3 orang itu juga bertekad berbuat kebaikan masing-masing ke-3 orang lainnya… begitu seterusnya…. bayangkan betapa indahnya kehidupan kita… Kita juga jadi banyak teman. Hal ini saya terapkan dalam bisnis MLM saya…

Bunda Esti :

Pilih MLM yang produknya bisa dijual dan ada kemungkinan laku, jadi orientasinya bukan sekedar cari downline terus duit datang sendiri, tapi emang jualan, yah harus aktif juga.

Bunda Emmy Sumangkut :

Sebelum memutuskan untuk ikut bergabung, kita harus ngeliat dulu:
1. Apakah perusahaan tersebut adalah member dari APLI atau tidak ( Asosiasi perusahaan yang menjual produknya secara MLM di Indonesia). Kalo perusahaan asing, pastikan dia member dari direct selling association di negara asalnya
2. Sdh berapa lama perusahaan tersebut berdiri? Kantor Pusatnya dimana? Pabriknya dimana? (segala sesuatu yang berhubungan dg perusahaan) Sudah mempunyai berapa cabang? Ada dimana saja?. Untk menandakan bonafitas dan kelayakan produk (semakin lama berdiri dan semakin banyak kantor cabangnya di berbagai negara akan semakin baik.)
3. Siapa pemilik perusahaan tersebut? Ini penting, karena perusahaan MLM yang benar pasti akan memberi tahukan kpd member/calon member, siapa dibalik kesuksesan perusahaan tersebut.
4. Apakah ada testemoni ( kesaksian ) tentang produk yang ditawarkan.
5. Apa tujuan kita untuk membeli produk tersebut? Untuk dipakai sendiri or untuk di bisniskan?
6. Bagaimana dengan sistem marketing toolsnya, pembagian bonus, dst.
7. Bagaimana dengan sistem keanggotaannya.

Kalo di money game, biasanya mereka akan meminta calon member untuk tahap awal menanamkan sejumlah uang kepada perusahaan dan pada periode tertentu( pada keanggotaan yang ke no sekian) member akan mendapatkan uang dg jumlah yang lebih banyak (kadang hitungannya fantastik)…Atau calon member diminta untuk menanamkan modal pada sebidang tanah yang akan ditanami sayuran or anything deh,.dan perusahaan akan memberikan modal kembali pada saat panen dengan jumlah uang yang lumanyan menarik (ya kalo untung, kalo buntung gimana).

Bunda Sotya :

Hal yang paling mendasar untuk membedakan antara M.L*M dengan sistem piramida atau money game adalah adanya produk yang dijual. Pada dasarnya, M.L*M merupakan salah satu cara penjualan langsung (direct selling), dimana keuntungan diperoleh dari penjualan, bukan dari merekrut. Naahh…jadi kalau Bunda ditawarkan bisnis yang mendapat keuntungan hanya dengan merekrut, tanpa ada penjualan, perlu dicurigai tuuhh….Karena jaringan M*LM yang baik itu bukan hanya dari banyaknya orang yang ikut jaringan, tapi juga seberapa besar penjualan yang dihasilkan.

Terus, untuk melihat apakah M.L*M tersebut menguntungkan untuk dijalankan dan bisa menjadi passive income untuk kita, pertama-tama kita harus melihat perusahaannya, apakah terdaftar di APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Dan seberapa besar omzet dan banyaknya member di seluruh dunia.
Yang kedua, dari segi produk, apakah produknya harganya terjangkau, repeat order tinggi, dan apakah pangsa pasarnya besar? Dan produk tersebut harus mudah dijual, tanpa kita perlu memiliki keahlian khusus untuk menerangkan tentang keuntungan produk tersebut. Yang ketiga adalah sistem. Kadang kita tidak bisa membedakan antara single level marketing dengan multi level marketing. di single level, seorang pelaku harus menjual sebanyak-banyaknya, bahkan sampai harus menyimpan stock. berarti hampir sama saja dengan sistem penjualan tradisional. Di Multi Level, pelaku bekerja sama dengan para downline untuk membangun jaringan, membentuk leaders, dan meningkatkan penjualan jaringan. Yang keempat adalah pengembangan personal yang dijanjikan oleh perusahaan. Mulai dari training produk, sampai pengembangan jaringan, harus disupport oleh perusahaan. Dan yang terakhir….pemilihan jaringan/up.line. Jaringan yang baik, harus saling membangun, mengadakantraining untuk jaringan, latihan pembentukan leader, dan berbagai pengembangan pribadi lainnya. Jadi, pilihlah up.line yang nantinya akan membimbing kita untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis ini, karena tanpa dukungan jaringan, kita tidak akan bisa mengembangkan jaringan kita.

Mba Yaya :

Dalam bergabung di sebuah MLM, dita juga harus yakin bahwa produknya bagus dan mnecobanya dulu. Karena kita dalam berjualan produk MLM nggak boleh asal ngecap aja donk…Nah lho, kalo kita sendiri nggak pernah nyoba produknya bisa kebingungan deh biala suatu saat pelanggan ada yang nanya, nanti malah kita mengarang bebas. Jd dalam hal ini kita nggak hanya mengandalkan “katanya upline aja”.

Kita memutuskan ikut MLM dengan melihat marketing plan (bonus, jenjang ) yang di tawarkan atau dengan melihat seberapa cepat kita mendapat bonus,seberapa banyak kita mendapat pasive income. Tapi ingat loh bonus, jenjang karir gak dateng dngn sendirinya kan? Tergantung jg usaha kt, intinya no pain no gain.

Panda Hanif :

Pertama kita harus mulai bisnis MLM ini dengan mental pengusaha bukan sales, karena MLM adalah bisnis kuadran kanan. Posisikan diri kita sebagai konsultan produk dari MLM yang kita jalankan, sehingga prospek yakin kita orang yang profesional dalam melakukan bisnis.

Mulailah dengan meyakinkan diri kita sendiri dengan produk yang ingin kita share, aneh kalau ada pelaku bisnis tapi dia tidak tahu benefit dari produk yang ngin di pasarkannya. Jadi konsumsi produk kita sendiri dulu dan kita rasakan dulu benefitnya pada diri kita.

Kedua, fahami konsep bernilai jutaan dollar ini “Orang bukan ingin membeli bor, tapi mereka ingin membuat lubang, ajarkan mereka membuat lubang dengan borkita”, Kalau kita kuasai konsep ini dan kita terapkan pada bisnis kita,insyaallah orang akan mencari produk dari kita.

Cara penerapannya mari saya jelaskan sebagai berikut.. Kalau kita menjalankan MLM dengan produk kecantikan, maka ceritakanlah apa yang dibutuhkan oleh calon prospek bunda, mereka ingin menghilangkan jerawat? oke, ajari cara bagaimana prospek bisa mulai merawat wajah agar bisa menghilangkan jerawat dengan baik dan benar..buatlah kondisi yang nyaman dan bershahabat dengan prospek kita..ikuti dulu apa yang mereka inginkan..setelah mereka faham bagaimana cara merawat wajah agar tidak berjerawat, mereka butuh alat untuk menjaga jerawat tidak muncul lagi..keluarkan senjata kita yaitu produk kecantikan yang mampu mentreatment wajah agar terhindar dari jerawat..ceritakan pengalaman kita selama memakai produk tersebut..kita tidak perlu menceritakan detil mengenai kandungan produk, tapi cukup menjelaskan konsep kerja dari produk tersebut, apakah mampu melindungi sel kulit atau memiliki kemampuan lain yang kita ketahui dari produk tersebut..kalau cara ini kitaterapkan, insyaallah kita mau menawarkan apapun bentuknya barang tersebut orang akan memilih membeli produk tersebut dari kita..

Ketiga, jagalah kontak dengan prospek kita, ini yang biasanya jarang di lakukan oleh pemula, mereka berharap prospek akan mengontak mereka setelahmereka menggunakan produk kita..itu SANGAT JARANG TERJADI… Tanyakan bagaimana pengalaman mereka menggunakan produk kita? apakah cocok? atur waktu kembali untuk bertemu dengan prospek agar mereka merasa di service dengan baik..jagalah hubungan baik.. Selanjutnya closing..

Kelebihan bisnis MLM di bandingkan bisnis konvensional dan franchise sendiri juga banyak, contohnya:

1. Kita tidak perlu modal yang terlalu besar untuk memulai usaha MLM, biasanya antara dari yang ratusan ribu sampai yg $500, tergantung kita mainnya di kelas yang mana, karena MLM ada yang murah ada juga yang cukup mahal, ibarat mobil ada yang kelas kijang sampai kelas mercy, tentu saja yang sekelas mercy,lambhorgini,ferrari kenyamanan untuk menjalankannya dengan support dari perusahaan lebih berkelas dan mewah..ini semua kembali kepada kita sanggupnya main dikelas yang mana, karena ada juga MLM yg mahal belum tentu bagus tapi ada juga yang murah juga belum tentu bagus, semua harus bisa kita teliti sendiri sebelum memulainya..beda kelas beda kecepatan untuk sampai ke tempat tujuan (impian kita)..

2. Kita tidak perlu karyawan, karena prinsip bisnis MLM adalah meminimalisir biaya overhead, ini keunggulan ke dua bisnis MLM. Karena kita bos bagi diri kita sendiri, nda ada yang bisa marah, nyuruh, apalagi ngejar target penjualan, karena semua itu yang mengontrol diri kita sendiri, kalau mau dapat hasil besar kerja keraslah di awal, mulailah dari meyakinkan diri sendiri dengan mengonsumsi produknya lalu kemudian ceritakan pengalaman pribadi kita pada orang lain (Tell The Story), dari situ terjadi sistem penjualan secara tidak langsung (mungkinini yang ditakuti para paranoid MLM).

3. Biaya overhaead tidak terlalu besar, ini juga kelebihan lain yang ada di MLM, karena sekarang orang ingin bisa berbisnis tapi kalau bisa tidak perlu banyak biaya pengeluaran untuk operasional. Kalau sampai ada orang yang menjalankan MLM keluar biaya berjuta-juta di awal membangun karir bisnisnya berarti orang tersebut perlu di prospek ulang, MLM bukan usaha dengan biaya overhead yang tinggi, tapi MLM juga perlu biaya overhead, jadi MLM bukan berarti tidak ada modal sama sekali untuk menjalankannya, anggaplah bisnis MLM layaknya bisnis konvensional/franchise dalam cara kita mengeluarkan tenaga dan waktu untuk mengerjakannya, tapi bedanya MLM memiliki potensi penghasilan yang tidak dibatasi, beda dengan konvensional bisnis yang profitnya perbulan memang sudah dipatok karena tingginya biaya overhead, di konvensional utk mendapatkan profit yang tinggi kita perlu biaya lagi untuk melakukan promo dan cara-cara untuk mendongkrak omzet, sedangkan di MLM, kita cukup memberikan penguatan pada downline-downilne kita agar omzet meningkat, jadi di sini yang banyak dikeluarkan adalah waktu dan semua orang memiliki waktu..

4. MLM tidak perlu memiliki kantor/ruang kerja permanen, karena sifat MLM adalah independent, kita melakukan aktifitas bisnis tidak perlu direpotkan dengan yang namanya tempat usaha seperti dibisnis konvensional/franchise.Pengalaman saya dari menjalankan MLM, konvensional serta franchise bisnis, bisnis MLM lebih enjoy untuk dijalankan, karena biaya setup untuk sewa ruangan kerja/kantor tidak diperlukan, kecuali kita jadi stokis dari usaha MLM kita tersebut. Apalagi dengan adanya teknologi internet, kita sbtulnya bisa memanfaatkan komputer di rumah/warnet untuk jadi virtual office kita di dunia maya, bisa dikerjakan kapanpun kita mau, biaya nya juga relatif lebih murah untuk memulainya. Seperti yang saya lakukan dengan koneksi online 24 jam non-stop quota pemakaian unlimited dengan tarif flat perbulan dari rumah, tentunya bisnis MLM yang kita jalankan akan lebih bisa kita maksimalkan..

5. Membuka cabang, ini yang saya suka dari bisnis MLM, di sini kita layaknya franchisor (pemilik franchise), kita punya hak membuka cabang dari bisnis kita dengan melakukan sponsoring tanpa kita perlu mengeluarkan biaya lagi untuk membuka cabang, dengan makin banyaknya cabang yang dimiliki tentunya mengejar target peningkatan omzet akan terasa lebih ringan karena adanya network/tim, beda dengan franchise/konvensional bisnis, di franchise/konvensional bisnis bila kita jadi seorang franchisee (yang membeli waralaba) kita tidak punya kesempatan untuk membuka cabang di bawah kita, kalaupun ingin membuka cabang, perlu biaya lagi yang tidak sedikit, dan uniknya, belum tentu bisnis franchise/konvensional itu berjalan, karena kalau kita salah pilih lokasi, bersiaplah untuk pusing tujuh keliling… MLM menggunakan kekuatan duplikasi, duplikasikan diri kita kepada cabang-cabang di bawah kita(downlines). Makin cepat kita menduplikasikan kemampuan kita kepada downline, makin cepat jaringan berkembang dengan sendirinya..

6. MLM bisnis manusiawi, di sini yang perlu digaris bawahi untuk para pemula di MLM, banyak orang yang bergabung MLM berharap bisnisnya cepat berkembang namun banyak dari mereka hanya ingin menikmati kesuksesannya tanpa mau/malas menyupport downlinenya, MLM bisnis SDM, betul kata salah seorang bunda di milis ini (punteun saya lupa namanya ) jaringan kita adalah manusia bukan karyawan kita, perlakukan mereka seperti anak kita (heheh..saya belum punya anak ), build your people, people will build your business, itu saja kata kuncinya..

Kalau dari kekurangannya, saya rasa bisnis ini tergantung dari kitanya yang menjalankan.MLM bisa dijalankan oleh semua orang dengan latar belakang apapun, tapi belum tentu semua orang cocok dengan MLM.. ini hanya pilihan, jadi yang menentukan adalah diri kita sendiri, apakah MLM cocok dengan kita atau tidak??

Kalau Money Game, semua bisnis sebetulnya money game, permainan uang., Tapi ada yang baik dan ada yang buruk, yang buruk itu yang sering bikin banyak korban, akhirnya ini yang jadi biang keroknya nama bisnis MLM rusak..Yang buruk biasanya hanya memakai konsep dapat uang jika ada member baru join di bawah kita..bukan dari repeat order produk..

MLM sebetulnya money game, tapi dia money game yang halal, karena dia mendapatkan uang jika kita melakukan transaksi perdagangan dengan produk yang bisa berpindah tangan dan produk tersebut bermanfaat bagi si pembelinya.

Dan untuk menilai mana money game yang buruk mudah sekali…jika money game yang buruk tersebut memiliki produk, apakah produk tersebut bisa kita beli tanpa kita harus jadi membernya? jika tidak bisa memenuhi syarat tersebut, maka bisnistersebut money game yang buruk..

Produk juga sangat penting untuk mendukung bisnis MLM kita..terutama bisnis yang memiliki repeat order seperti produk kesehatan dan kecantikan..kalau produk bagus pasti akan dibeli orang secara continue.. bukankah kita ingin mendapatkan omzet ? untuk itu carilah produk yang berkualitas dengan dukungan riset para ahli dan testimoni para pemakainya serta legal (POM) dan halal untuk di konsumsi..

Pertanyaan saya selanjutnya adalah.. apakah produk tersebut akan bunda beli jika bunda tidak perlu terlibat di dalam bisnis MLM tersebut? jika bunda menjawab ya, itu artinya produk tersebut memiliki pasar.. karena di awal bunda perlu nutup biaya operasional..menawarkan produk yang mampu menjual kepada konsumen yang tidak suka MLM adalah penting.. kalau produknya tidak mampu menjual, maka akan sulit utk mendapatkan hasil dari keutungan retail di awal..

Untuk mengukur produk itu bagus juga mudah sekali..

Pertama.. lihat apakah produk tersebut didukung dengan riset para ahli? karena dukungan testimoni saja tidaklah cukup.. bagaimana kalau ada konsumen kita yang kritis menanyakan riset dari produk kita tapi kita tidak bisa menjawab? terutama orang� kelas menengah ke atas, mereka lebih mementingkan kualitas, mereka akan royal membeli produk tersebut kalau memang terbukti ada dukungan riset dari para ahli di bidang produk tersebut.

Kedua, apakah produk tersebut legal secara hukum baik di negara kita atau dari negara lain jika produk MLM kita dari luar negeri.

Marketing Plan adalah cara perusahaan untuk menawarkan reward/komisi kepada para distributornya..
Menurut saya carilah marketing plan perusahaan yang sudah proven tidak ganti-ganti marketing plan dari sejak berdirinya sampai sekarang, minimal terbukti membawa banyak orang sukses tanpa perlu memiliki kemampuan khusus untuk berhasil di dalam bisnis MLM tersebut.. perusahaaan yang suka gonta-ganti marketing plan, adalah perusahaan yang belum memiliki pengalaman bisnis MLM, mungkin mereka dilatar belakangi orang-orang konvensional yang mencoba menerapkan konsep MLM untuk menjalankan usahanya.. bunda akan capek menjalankan usaha MLM dengan perusahaan seperti ini..

Untuk mencari upline yang baik juga ada triknya.. carilah upline yang mengayomi.. artinya upline yang dengan sabar mengajarkan kita untuk bisa berhasil di bisnis MLM mereka.. upline yang rajin menjaga hubungan baik dengan kita adalah kriteria upline yang bagus untuk diikuti..

Dan yang terakhir jangan lupa..untuk mencari perusahaan yang memiliki support sistem yang dibangun sendiri oleh perusahaan tersebut, karena support sistem menjaga group kita nanti agar tetap menjalankan bisnis sesuai dengan aturan main yang berlaku..

Bunda Niena :

Cara paling gampang membedakan MLM dan money game adalah : lihat apakah perush tsb sebagai anggota APLI tidak (money game tdk terdaftar di APLI), kemudian perhatikan adakah produk yang diperjual belikan (apakah kualitas prod nya sebanding dg harga yg dibayarkan) dan bagaimana sistem keanggotaannya, apakah dibatasi (binary) tidak?(money game biasanya dibatasi)

Jadi kalau ada yang menawarkan dengan bergabung kita cukup merekrut 2 org (misalnya) maka otomatis kita dapat bonus, nah mbak patut berhati hati, karena dalam MLM pun mustahil kita mendapat bonus besar kalau kita tidak mau kerja keras.

Bunda Sharah :

Banyak orang alergi pada MLM arena banyak yang menjalankan binis M.LM dengan pendekatan yang bombastis, terutama saat menjelaskan reward2 dan mengenai pendapatan yg berjuta2 ke prospek.

Gambaran bisnis MLM itu adalah :

1. Keanggotaan, M.LM biaya keanggotannya murah krn hanya untuk ganti biaya adm dan starter kit…tidak harus beli paket produk dulu.

2. Produk, prosuk M.LM biasanya berkualitas tinggi ada ijin resmi dari Depkes, FDA, etc dan benar2 bisa dijual…kalo produk money game biasanya gak jelas…kalaupun ada kualitas dan harga gak sebanding.

3. Marketing plan, M.LM yg baik punya marketing plan yg jelas, sistem perhitungan bonus yg jelas dan menguntungkan untuk upline maupun downline….kalau money game…biasanya perhitungan bonusnya bombas banget, sistemnya cenderung menguntungkan upline saja.

4. Terdaftar di APLI, pastikan persh yg kita ikuti terdaftar di APLI, M.LM yg bagus pasti sdh terdaftar.

5. Training yg diberikan, umumnya persh yg baik memiliki support system untuk anggotanya…berupa pelatihan2 untuk meningkatkan kualitas diri anggotanya thus jadi anggotanya bisa lebih berkembang yg tentunya sangat berdampak bagus bagi perusahaan. Kalau money game biasanya gak ada trainingnya…baik training produk, training presentasi…atau yg lainnya….

Beda MLM dengan bisnis konvensional (dari buku �Why not MLM� oleh Pindi Kisata) :

1. Modal awal yang relatif kecil –> cuma modal uang pendaftaran aja…ketimbang kalau buka toko misalnya…,sewa dan stock barangnya bisa berjuta2 rupiah.

2. Modal operasional yg relatif kecil –> selain uang pendaftaran, biaya lain yg keluar biasanya biaya telpon dan transport ke tempat training…atau jika kita menjalankan secara online…biaya untuk langganan akses internet, beli domain atau hosting :) . Coba bandingkan dgn operasional bisnis konvensional yg bisa tdd: biaya gaji, biaya sewa bulanan, biaya inventory…dll

3. Tidak butuh tempat khusus –> bisa di mana aja kerjanya, baik dijalankan online maupun offline…tdk perlu toko atau area khusus untuk display produk

4. Risiko kecil –> karena modalnya kecil maka risikonya kecil…. baik risiko rugi materil maupun risiko sakit hati atau stress

5. Waktu kerja yang fleksibel, tidak 8 to 5 :) , yg penting disiplin aja dengan waktu kerja…

6. Bisa menjangkau wilayah yang luas –> apalagi jika didukung oleh perwakilan perusahaan yg ada di masing2 daerah dan terlebih jika dijalankan secara online

7. Tidak perlu keahlian/ pendidikan khusus –> kalo gak punya pengalaman bisa ikut training

8. Mendapat bimbingan lgsg dari upline….nah paling enak deh kalau dapat upline yang care dan support jadi kita jalannya lebih terarah dan dapat ilmu suksesnya mereka…:)

9. Memiliki sistem yang bagus dan teruji….. M.LM adalah suatu jenis usaha yg terbukti sukses, krn sistem yg ada di persh M.LM yg bagus sdh teruji…baik sist. keuangan, sist distribusinya dll.

Upline dan gaya mereka dalam melakukan pendekatan dan memberi penjelasan sangat berpengaruh padaku……..seperti org bilang kesan pertama harus nyaman dulu ya…selanjutnya kalau sdh nyaman pasti deh kita bisa tunduk manis dengerinpenjelasan mereka supaya ngerti ;-) . Intinya upline yang disukai adalah upline yg friendly, jujur dan smart… FRIENDLY dalam arti saat memulai “masuk” ke saya, bener2 memposisikan diri sebagai teman BUKAN sales, teman yg bener ya yg mau dengerin dulu apa harapan saya dan mau mendengar kebutuhan dan keterbatasan2 saya sbg ibu rumah tangga. JUJUR- NO UGLY SURPRISES. SMART, karena dia ngerti banget segala aspek dari bisnis yang dia tawarkan,mulai sistem perhitungan bonus, jenjang karir, produketc, etc dan bisa menjelaskan/ menjawab pertanyaan dan keraguanku saat diprospek, COMMIT untuk SUPPORT, dari awal mungkin gak bisa lgsg tahu ya, apakah si upline ini tipe yg full support atau enggak apalagi kalau kita bener2 dari gak tau apa2…support atau tidak bisa kebaca deh saat2 awal prospek dgn kita…..At least mereka mau kashi tau contact number dan selalu siap sedia dihubungi…telp nyala terus juga salah satu indikasi. Tapi yang paling penting juga ya itu: pershnya sdh mapan, terdaftar APLI, punya produk yang bagus dan …..yg paling penting punya sistem bisnis,rencana bisnis dan support (dari training, customer care, dll) yg bagus dan jelas.

Bunda Sharah juga memberikan referensi buku yang sangat aplikatif sekali loh � aku langsung cari di toko buku � judulnya �Why not MLM� oleh Pindi Kisata. Selain itu aku juga menemukan buku-buku bagus lainnya tentang MLM yaitu : �How to Build MLM Business� oleh Pindi Kisata dan �The Greatest Networker in the World ; Buku Wajib Para Networker � oleh John Milton Fogg.

sumber: Komunitas Bundainbiz

Pengin berbagi cerita nih seputar bisnis MLM dan Direct Selling. Oiya, content-nya saya ambil dari komunitas Bundainbiz. Semoga bermanfaat (at least untuk diriku sendiri ;-) ..).

===========

BIBers..
salah seorang MOds BIB tuh ada yg kebagian tugas mikirin topik2 bagus buat kita diskusiin bareng ;-) . nah minggu lalu, mba Anisa nyodorin ke tim mods beberapa topik menarik..salah satunya nih yg langsung menarik perhatianku adalah “startegi ampuh penjualan direct selling”…
sudah hampir sebulan BIB milis berjalan.. kok yg para anggota dire.ct selling dan m.l.m masih blum pada muncul yaa hehe
tenang aja BIBers.. gak seperti kebanyakan milis wirausaha laen… disini boleh kok kita ngobrol ttg bisnis ntwork markting ;-)

ayoo dong berbagi cerita…
suka dukanya bundas pandas yang menjalankan bisnis spt Oriflame..amwa.y..revell mungkin? atau tupperware??

apa aja sih yang dilakukan dlm mempromosikan bisnisnya?
apa yang biasanya jd kesulitan atau tantangan?
apa tipsnya biar bs tampil beda dr banyak sales lainnya?
apa kelebihan dr bisnis nya dibanding m.lm yg laen ;-)
gimana ceritanya kok bisa mulai bisnis ini??

hmmm..di milis BIB banyak loh downli.ne ku di Bel’Air ;-)
ayoo aku todong nih buat cerita2 pengalaman,
kalo gak, laporan poin gak aku kirimin loh hehehehe…

/nadia

=======

Selamat siang dan salam kenal,
Saya Nita, baru bergabung di milis BiB hari ini :)
Sekarang ini saya bekerja di tiga perusahaan: kantor saya, keluarga, dan menjadi konsultan salah satu Direct Sellin/MLM bernama Oriflame.
Saya bergabung di Oriflame baru tiga bulan berjalan. Dan sekarang masih di level bonus paling bawah, yaitu 3% dengan bonus masih di bawah Rp. 50ribu :P

Kenapa saya memutuskan untuk bergabung di Oriflame? Pertama, join fee-nya di sini murah hanya Rp. 30ribu plus fotokopi KTP. Kedua, produknya bermutu bagus, banyak dikenal dan harganya sangat terjangkau.

Suka-dukanya? Banyak :) Dukanya antara lain, banyak orang yang memandang sebelah mata, menganggap remeh bisinis MLM. Banyak yang bilang ini bisnis mimpi, mana mungkin dengan jualan kosmetik aja bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis, dapat uang berpuluh-puluh juta.

Memang benar bisnis ini bisnis mimpi. Buat saya bisnis ini adalah jalan saya untuk meraih mimpi-mimpi saya. Mimpi seorang Ibu yang ingin ada di rumah saat anaknya sakit, ingin melihat langkah pertama sang bayi, ingin mendengar celoteh sang anak. Ibu yang menangis dalam hati ketika anaknya yang berumur tiga tahun menyambut pamitan sang ibu ketika hendak berangkat ke kantor dengan, “Mama kok kerja melulu.”

Ada juga orang yang menganggap bisnis MLM cuma bisa dijalankan oleh satu etnis saja. Mereka tidak melihat bahwa orang-orang dari etnis yang tidak mereka sukai itu kebanyakan punya sifat “Tidak betah miskin lama-lama” :) Makanya mereka lebih cepat berhasil.

Sukanya? Banyaaaak!

Pertama, saya mengenal banyak orang yang beraura positif. Mereka positif akan apa yang dijalani dan hasil akhirnya. Mereka positif bahwa seluruh perjuangan mereka tidak akan sia-sia pada akhirnya.

Kedua, Oriflame seperti yang saya katakan di atas, sudah dikenal banyak orang. Jadi pemasarannya juga tidak sulit. Tinggal bawa katalog, tunjukkan, dan ambil order :) saya sendiri tidak banyak menjual produk, tapi lebih banyak “menjual” sistem. Karena harus saya akui, kalau hanya menjual produk, tidak banyak tambahan yang saya dapatkan.

Ketiga, karena untuk menjadi member tidak merepotkan (hanya membayar Rp. 30ribu dan fotokopi KTP), maka cukup mudah untuk mengajak teman, saudara, tetangga, atau bahkan rang asing sekalipun untuk bergabung. Puji Tuhan dalam waktu tiga bulan berjalan ini saya sudah mempunyai hampir 20 “anak” dan beberapa “cucu”. Sedikit ya? Soalnya waktu saya masih dibatasi oleh jam kerja kantor yang mengikat. Kalau tidak, mungkin bisa lebih :)

Untuk promosi, biasanya saya lewat milis-milis yang saya ikuti, lewat iklan di tabloid (tentunya sesuai dengan ketetapan dari Oriflame), lewat katalog, dan lain-lain.

Kelebihan Oriflame?

Pertama join fee-nya murah.

Kedua, produk sudah dikenal.

Ketiga, harganya terjangkau.

Keempat, sebagai konsultan, untuk berbelanja sangat dimudahkan (bisa lewat telepon, internet, fax, atau email. Jadi tidak harus datang langsung, bisa bayar COD pula).

Buat saya, semua MLM (yang terdaftar di APLI) adalah bagus. Masing-masing punya ciri khas, kekurangan dan kelebihan masing, tergantung dari yang menjalankan.

Semoga sukses!
Nita

============

Dear Bunda Nadia,
klo soal sharing MLM kayaknya aku blom pantes…. soalnya br sebulan ini ikutan Ori, sdh gitu akunya jg blm aktif2 bgt cari member n nawarin2 produk……
sekarang2 ini masih sebatas nawarin2 produk Ori ke saudara2 dan sahabat2 deket…. lumayanlah sebagai pemula. Trus terang aja, aku tuh gak pede bgt klo disuruh nawar2in barang, itu lo urat malu nawarinnya masih gede bgt….. Syukur deh aku dapet masukan dari bunda dan panda untuk memulai suatu bisnis….
sekarang lg nyari ide cari lain untuk promosiin produk Ori via net….
bagi aku pengalaman yang palin susah itu, mengubah product minded org untuk pindah pake produkku…………. perlu seni2 tertentu…. mgkn panda Putu punya jurus2 tertentu gak??? hehehehe……… mohon maaf nih…. pengalaman di MLM-nya msh minim bgt….

rgds,
ruri

=============

Ass.Wr.Wb.
Dear Bunda Yuli Widyapuri,
Ndak ada rahasia khusus kok untuk sukses di m.lm kecuali ketekunan, kerja keras, dan kerja cerdas.
Ikuti aja saran upline ataupun leader anda yg bisa dipercayai dan juga terbukti sukses, tiru aja apa yg mereka lakukan. Baca dan ikuti pengalaman sukses dari top leader di m.lm anda dari majalah yg mereka terbitkan secara berkala.

Yg paling penting juga adalah:
* Product Knowledge (pengetahuan secara mendalam ttg produk yg anda jual/ tawarkan ke konsumen)
* Pelatihan2 yg diadakan secara reguler
* Sering2 berkonsultasi dg leader.
* Never GIVE UP

Yg diatas mah cuma 20% nya…
sisanya ditentukan dari bagaimana bunda Yuli masuk kedalam sekolah bisnis yg sebenarnya, yaitu di jalanan alias praktek langsung.

Untuk nutrisi otak jika lagi suntuk atau down, selain petunjuk diatas adalah: baca buku2 motivasi, dan kisah2 sukses.

Masing2 m.lm punya strategy dan trik2 tersendiri yg disesuaikan dg karakter produk dan gaya bisnisnya. Kebetulan saya juga leader di group saya, hampir tiap hari isinya ngasih motivasi buat seluruh member.

Camkan baik2 bahwa tidak ada satu bisnispun, termasuk m.lm yg bisa menjanjikan bisa cepat kaya secara instan kalau hanya ongkang2 kaki, dan jangan pula berharap ada durian runtuh.

Ketekunan, kesabaran, rasa syukur dan keikhlasan sbg kuncinya.

Apapun bisnisnya…… Yg penting bukan hasil akhirnya…… tapi proses untuk mencapai hasil akhir itulah yg paling menentukan.

So…… never GIVE UP.

wass
Panda Putu

==========

Mba Nita ..excatly apa yang aku rasain duluuu loh mba. Sebelumnya aku juga tejun ke dunia m.lm.. Mungkin banyak org yang berpandangan negatif terhadap m.lm krn memang ada beberapa orang/distributr yg menjalankan bisnis ini dengan cara yang kurang “enak”.
Kadang..kesannya makasa.. Dang terlalu ngejar2..ya kan BIBers ;-)
Kita kan jadi ilfil kalo dikejar2 terus heheh

Tapi aku stuju dengan banyak pendapat lainnya..
Banyak yg ngajarin aku kalo sebenernya yang hebat dr sebuah bisnis m.lm itu adalah sistemnya.. Jadi kenapa nggak “curi” ilmu dr situ utk bisa diaplikasikan pada bisnis tradisional kita ya gak?

Tentang jargon Bisnis Mimpi..
Nahh ini lagi hehe..
Padahal mana ada orang yang gak berbisnis kalo emang gak punya mimpi ya kan mba ;-)
Justru aku tuh blajar dr m.lm utk belajar menuliskan mimpi ;-)
Belajar berani menghadapi mimpiku tuh sebenrnya apa sih… Pengen punya apa.. Pengen diakui sbg apa misalnya..
Ini juga bisa loh bibers kita terapkan pd everyday lives kita..
Sehingga bisnis apapun yg kita jalanin, jelas target nya..
Fokusnya ..dan yang paling penting berani memulai alias just do it ;-)

/nadia

=============

Iya Mbak Nad. Mungkin kesan negatifnya muncul dari situ. Atau dari orang2 yang gak berhasil ngejalanin sistemnya, kemudian ngomong kalau mlm itu gak bagus, padahal mereka aja yang gak gigih.
Btw, Mbak Nadia ini salah satu dari WAHM panutanku loooh. Seneng deh bisa ketemu langsung di kopdar nanti :)

nita

=======

sumber: Komunitas Bundainbiz

« Previous Page

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.