Mengejar kesuksesan dan kebahagiaan dengan berpikir positif saja memang bisa berhasil. Namun, hasilnya akan lebih optimal jika kita menggunakan perasaan positif dan menyelaraskannya dengan pikiran positif.
Begitu kutipan tentang positif feeling yang ditulis Erbe Sentanu dalam buku Quantum Ikhlas yang populer itu. Anda ingin tahu kebenarannya? Coba renungkan lagi! Berapa banyak keinginan yang tercapai ketika perasaan Anda berada pada posisi positif alias ikhlas? Sebaliknya, ketika perasaan Anda negatif alias dipenuhi nafsu dan emosi apa yang yang Anda rasakan? Makin jauh dari ‘kemudahan’? Yup, benar sekali, itu pula yang saya rasakan.

Mengapa bisa begitu? Bayangkan ketika kita berada di zona nafsu. Kita selalu diliputi rasa cemas, takut, dan penuh amarah. Alhasil, kita seperti kehabisan tenaga. Semangat pun tak banyak tersisa karena zona ini memang diselimuti energi rendah.

Sementara ketika hati kita terasa lapang dan ikhlas (positive feeling), kita akan merasa penuh tenaga. Karena memang energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah berbagai perasaan positif yang berenergi tinggi seperti rasa syukur, sabar, fokus, tenang dan happy.

Nah, perasaan-perasaan ini juga yang menjadi sistem navigasi hati kita. Sistem yang memberitahu kita untuk selalu berada di ‘jalan benar’ menuju tujuan. Masalahnya, bagaimana agar kita selalu merasakan positive feeling? Ini rahasianya.

1. Don’t be too serious

Anda ingat bagaimana menjalani hari-hari ketika kepala penuh dengan hal-hal serius? Segala sesuatu pasti akan terasa sulit dicapai.

Sekarang coba geser keseriusan di kepala Anda menjadi keasyikan di hati. Cukup tarik napas dalam, embuskan perlahan. Lalu, tekan tombol rileks di kelapa, senyum di wajah dan tenang di hati. Rasakan perlahan segala urusan menjadi begitu lancar dan penuh kemudahan.

2. Operasikan pikiran dengan sengaja

Untuk menjadi sukses, kaya atau bahagia, kita memang harus menciptakan pikiran yang membuat kita merasakan hal-hal tersebut. Kalimat “Saya ingin bahagia” atau “Saya ingin sukses” sebaiknya kita ubah menjadi “Saya sudah merasa bahagia” atau “Saya sudah merasa sukses (dengan semua yang kita punya)”.
Memang agak sulit dilakukan. Pasalnya, kebanyakan orang belum terbiasa untuk merasa puas dengan apa yang mereka punya. Namun karena ini masalah kebiasaan, Anda hanya perlu berlatih. Seperti olahraga untuk membangun otot dan hormon yang sehat, pikiran positif pun perlu dilatih dengan teratur.

3. Fokus tapi damai

Salah satu sebab kita mudah terbawa ke zona perasaan negatif adalah terlalu sering memaksa atau menuntut banyak dari diri kita sendiri. Kita memaksakan diri terus bekerja hingga energi habis. Padahal, kita hanya punya satu badan, dua tangan, dan dua kaki. Setelah lelah mendera, kita juga masih berharap bisa bersikap riang dan menyenangkan orang lain.

Nah, ketika tenaga habis sementara pekerjaan masih menumpuk, ingat saja aturan ini. Berbahagialah, apa pun situasinya dan izinkan diri Anda beristirahat selama 1 jam, 2 jam, 5 jam, atau bahkan 1 hari bila perlu. Setelah tubuh terasa segar, perasaan pun akan kembali positif. Anda bisa bekerja lagi dengan hasil yang optimal.

4. Setel perasaan positif

Ini latihannya. Coba perhatikan sebuah objek yang menyenangkan di sekitar Anda (bisa barang, orang atau situasi). Rasakan benar-benar selama 2-3 menit betapa beruntungnya Anda memiliki objek itu. Betapa bagus dan bermanfaatnya objek itu bagi Anda. Rasakan perubahan perasaan Anda. Pasti menjadi lebih enak dan positif.

Lalu, pindahkan perhatian Anda pada objek lain dan lakukan hal yang sama. Lakukan sepanjang hari dan jagalah perasaan enak ini selama mungkin sambil menjalankan aktivitas Anda. Semakin sering Anda melatih perasaan positif ini, semakin berkurang perasaan tidak enak yang biasanya sering menekan di hati.

5. Selaraskan pikiran dengan perasaan

Jika kehendak hati tidak sinkron dengan kehendak pikiran, apa yang terjadi? Biasanya yang muncul adalah keraguan. Pasti Anda pernah merasa ingin langsing, tapi sulit menahan godaan makanan berlemak.
Ketika Anda menginginkan sesuatu tapi terbersit semacam keraguan, ini sama saja Anda menyabotase harapan untuk mencapai sesuatu tersebut. Disinilah Anda perlu berlatih untuk menyelaraskan pikiran dengan perasaan.

Caranya, ubah kalimat “Saya ingin langsing” yang terasa kaku dengan “Rasanya lebih enak ya, kalau saya langsing” yang terasa lebih sejuk di hati.

Nah, mulai sekarang prioritaskan diri Anda untuk merasa positif sebelum melakukan apa saja. Dengan positif feeling ini, sukses dan kebahagiaan hanya tinggal masalah waktu.

Sumber: CHIC No.14, 2-16 Juli 2008